Wednesday, July 21, 2010

Ditinggal Kekasih, Gadis Bogor Itu Jadi PSK High Class



BOGOR - Gejolak remaja. Begitulah penilaian orang tua menggambarkan labilnya emosi anak muda. Suka mencoba hal baru seringkali dianggap tantangan yang harus ditaklukan.

Mirisnya, hal-hal baru yang ingin dikecap biasanya berkonotasi negatif. Tengok saja perilaku remaja termasuk ABG alias anak baru gede di perkotaan. Seks bebas, narkoba bukan barang asing lagi.

Fenomena seks bebas sudah menjalar bukan hanya jadi milik Ibukota tapi merambah ke daerah terpencil sekalipun. Setelah sedikit mengupas fenomena seks bebas di Jakarta, kini okezone coba menyusuri penjaja seks remaja di Bogor, Jawa Barat.

Sebut saja namanya, Adinda. Gadis yang putus sekolah saat duduk di bangku kelas II SMA di kota Bogor ini kini memilih menjadi pemuas hasrat seks pria hidung belang. Saat bertemu dengan okezone di sebuah tempat di Bogor, Adinda menceritakan awal mula dirinya menjadi pekerja seks komersil.

Adinda mengisahkan, saat duduk di kelas 1 SMA, gadis berparas cantik dengan kulit putih ini mengaku berpacaran dengan pria yang umurnya jauh lebih tua. Pria mapan itu, kata Adinda selalu memenuhi tiap kebutuhannya.

'Dia mengajak saya berhubungan intim, saya mau saja,' kata Adinda saat berbincang dengan okezone pekan lalu. Namun, hingga pada akhirnya pria mapan ini meninggalkan Adinda. 'Saya frustasi,' katanya.

Adinda sendiri berasal dari keluarga kurang mampu yang tinggal di Parung. Namun, semenjak SMA dia memutuskan untuk kost di daerah Gunung Batu, Bogor Tengah. Putus hubungan dengan pria mapan itu, berarti Adinda harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebetulan, di sekitar tempat kostnya, banyak dihuni pekerja seks komersil remaja termasuk para germo yang menjadi penyalurnya. Adinda pun berani mematok harga Rp6-7 juta per dua jam. 'Pendapatan bersih 4-5 juta karena harus dibagi dengan germonya,' jelas Adinda.

Tapi Adinda tak pernah 'beroperasi' di Bogor. Jakarta-lah yang jadi sasarannya. “Setiap malam minggu, saya pasti ke daerah Kemang, Jakarta Selatan untuk berpesta sekaligus mencari penghasilan,' ujarnya.

Adinda bukanlah satu-satunya remaja di kota-kota besar yang keliru mengambil langkah. Minimnya perhatian orangtua dan pergaulan yang semakin hedonis, seakan menjadi peluang bagi Adinda dan teman lainnya untuk semakin terjerumus di dunia hitam pemuas nafsu.

No comments:

Artikel lainnya