Thursday, March 31, 2011

Tanda-tanda Gangguan Sensorik pada Anak

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Setiap anak memiliki 7 sensorik dasar di dalam tubuhnya. Tapi kadang sensorik ini tidak bekerja optimal dan mengalami gangguan. Kenali gejala yang muncul jika anak memiliki gangguan sensorik.

"Sejak dalam kandungan sampai dewasa, sistem saraf selalu berkembang dan berproses dengan banyaknya informasi yang didapat setiap harinya dari lingkungan sekitar," ujar Iin Muthmainah Djamal, Amd.OT dalam rilis seminar Identifikasi Gangguan Perkembangan yang diterima detikHealth, Kamis (31/3/2011).

Iin menuturkan sistem saraf ini harus mampu menginterpretasikan informasi agar tubuh dapat bergerak sesuai dengan kebutuhan. Tapi ada kalanya sensorik di tubuh anak mengalami gangguan.

Pada umumnya sensorik dasar manusia terdiri dari perabaan, pendengaran, penciuman, penglihatan, pengecapan, propioseptif (gerak antar sendi) dan vestibuler (keseimbangan).

Sensorik perabaan
Input yang didapatkan berasal dari reseptor di kulit yang bisa berupa sentuhan, tekanan, suhu, rasa sakit dan gerakan bulu-bulu atau rambut.

Jika sensorik perabaan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Tidak mau atau tidak suka disentuh
  2. Menghindari kerumunan orang
  3. Tidak menyukai bahan-bahan tertentu
  4. Tidak suka rambutnya disisir
  5. Bereaksi berlebihan terhadap luka kecil
  6. Tidak betah dengan segala hal yang kotor.

Sensorik pendengaran
Input yang didapatkan berasal dari suara-suara di luar tubuh

Jika sensorik pendengaran mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Mudah teralih perhatiannya ke suara-suara tertentu yang bagi orang lain dapat diabaikan
  2. Takut mendengar suara air ketika menyiram toilet, suara vaccum cleaner, hair dryer, suara gonggongan anjing dan bahkan suara detik jam
  3. Menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba
  4. Senang mendengar suara-suara yang terlalu keras
  5. Sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang dia tidak sukai.

Sensorik penciuman
Input yang didapatkan berasal dari aroma atau bau yang tercium

Jika sensorik penciuman mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Reaksi berlebihan terhadap bau tertentu seperti bau kamar mandi atau peralatan kebersihan
  2. Menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya
  3. Tidak menyukai makanan hanya karena baunya
  4. Selalu menciumi barang-barang atau orang disekitarnya
  5. Sulit membedakan bau.

Sensorik penglihatan
Input yang didapatkan berupa warna, cahaya dan gerakan yang ditangkap oleh mata.

Jika sensorik penglihatan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Menangis atau menutup mata karena terlalu terang karena ia terlalu peka dengan sinar terang
  2. Mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar
  3. Senang bermain dalam suasana gelap
  4. Sulit membedakan warna, bentuk dan ukuran
  5. Menulis naik turun di kertas tanpa garis.

Sensorik pengecapan
Inputnya didapatkan dari semua hal yang masuk ke mulut dan juga lidah.

Jika sensorik pengecapan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Suka memilih-milih makanan (picky eater), menolak mencoba makanan baru sehingga lebih senang dengan makanan yang itu-itu saja
  2. Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi
  3. Suka mengemut makanan karena ada kesulitan dengan mengunyah, menghisap dan menelan
  4. Mengiler
  5. Sering memasukkan barang-barang ke mulut.

Sensorik propioseptif (gerak antar sendi)
Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi, akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh.

Jika sensorik propioseptif mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Senang aktivitas lompat-lompat
  2. Suka menabrakkan atau menjatuhkan badan ke kasur atau orang lain
  3. Sering terserimpet kaki sendiri atau benda sekitar
  4. Sering menggertak gigi
  5. Pensil patah saat menulis karena terlalu kuat memberikan tekanan
  6. Terlihat melakukan segala sesuatu dengan kekuatan panuh.

Sensorik vestibular (keseimbangan)
Input yang didapatkan dari organ keseimbangan yang berada di telinga tengah atau perubahan gravitasi, pengalaman gerak dan posisi di dalam ruang.

Jika sensorik vestibular mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Menghindari mainan ayunan, naik turun tangga dan perosotan
  2. Tidak suka atau menghindari naik eskalator
  3. Takut dengan ketinggian
  4. Senang diayun sampai tinggi
  5. Senang dilempar ke udara.

Treatment yang diberikan berupa terapi sensory integration (SI), yaitu pengorganisasian berbagai informasi sensori agar bisa dimanfaatkan oleh tubuh. Terapi ini merupakan salah satu metode okupasi terapis.

Iin Muthmainah menuturkan aktifitas dalam terapi sensori integrasi adalah:

  1. Mengembangkan intelektual, kemampuan sosial dan emosi
  2. Meningkatkan harga diri (self-esteem)
  3. Mempersiapkan badan dan pikiran agar lebih siap untuk belajar
  4. Dapat berinteraksi dengan positif terhadap lingkungan sekitar.

No comments:

Artikel lainnya