Saturday, April 9, 2011

Dokter Wajib Langsing Jika Mau Menangani Pasien Obesitas

img
Dr Inge dan Dr Samuel (detikHealth)
Jakarta, Jika ingin sarannya didengarkan dan dipatuhi pasien, maka dokter wajib memberikan contoh konkret. Termasuk ketika mendampingi pasien obesitas yang ingin menurunkan berat badan, dokter wajib langsing jika tidak ingin pasiennya frustrasi.

Hingga saat ini memang belum ada penelitian yang menunjukan berapa persen dokter yang memiliki masalah berat badan. Namun di kalangan dokter spesialis gizi klinik yang sering menangani pasien obesitas, punya tubuh gemuk dan obesitas memang diharamkan.

"Ibarat peragawati, untuk menjadi dokter gizi klinik memang dipilih yang seperti ini," ungkap Ketua Panitia Seminar dan Kursus Obesitas ke-6, Dr Inge Permadhi, MS, SpGK, sambil memamerkan posturnya yang ramping di sela-sela konferensi pers di Hotel Borobudur, Jumat (8/4/2011).

Dokter cantik dengan tinggi badan 154 cm dan berat badan 44 kg ini mengibaratkan profesinya bagai peragawati yang wajib tampil menarik jika ingin busana yang diperagakannya laku. Seorang dokter juga akan lebih meyakinkan bagi pasien obesitas jika dia sendiri tidak gemuk.

Pendapat senada juga disampaikan oleh pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Samuel Oetoro, MS, SpGK yang juga sangat memperhatikan berat badannya. Menurutnya, pasien obesitas umumnya sangat sensitif kalau sudah menyangkut berat badan.

"Sepulang dari Stockholm beberapa bulan lalu, berat badan saya naik 1,5 kg. Cuma 1,5 kg dan saya sendiri tidak terlalu ambil pusing sebenarnya, tapi ada saja pasien saya yang komplain kok saya kelihatan lebih gemuk," kata Dr Samuel.

Mau tidak mau Dr Samuel jadi sangat memperhatikan berat badannya dengan menghindari makanan yang tidak sehat, yakni makanan berlemak dan banyak mengandung gula. Setiap hari ia juga menyempatkan diri untuk berolahraga dengan stationary bicycle (sepeda statis).

Menurutnya, contoh konkret dari dokter bisa menjadi motivasi tersendiri bagi pasien obesitas yang ingin menurunkan berat badan. Pasien bisa frustrasi jika program dietnya selalu gagal meski sudah berusaha keras, sementara dokternya sendiri malah tambah gemuk.

Sebuah survei tahun 2005 mengungkap tingkat keberhasilan dokter dalam mendampingi pasien obesitas belum memuaskan. Hanya 30 persen dokter yang merasa selalu sukses melakukan pendampingan jangka panjang, sedangkan 60 persen merasa kadang-kadang sukses dan 10 persen merasa jarang sukses.

No comments:

Artikel lainnya