Saturday, April 30, 2011

Inilah Beda NII Era Kartosoewirjo dan NII Masa Kini

Negara Islam Indonesia (NII) punya sejarah panjang di Bumi Indonesia. Bermula dari gerakan Darul Islam yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Tasikmalaya, Jawa Barat. Gerakan ini tak lantas hilang pasca Kartosoewirjo ditangkap dan dieksekusi pada 1962. Belakangan, NII kembali jadi sorotan setelah sejumlah orang dikabarkan menjadi korban penculikan dan pemerasan. Bukti, gerakan ini masih ada.

Kartosoewirjo dan Bendera NII (Negara Islam Indonesia)

Kartosoewirjo dan Bendera NII (Negara Islam Indonesia)

Meski demikian, mantan pengikut NII, Ken Setiawan mengaku, sebenarnya NII yang bertujuan mendirikan negara Islam sudah tak ada lagi. “Bagi kami, NII tamat setelah Kartosuwirjo tewas,” kata Ken pada media Vivanews yang dikutip ruanghati.com. Apa yang disebut NII saat ini, kata dia, tak lain tak bukan hanya organisasi yang bertujuan mengumpulkan uang sebanyak mungkin. “Tujuannya, mencari pengikut dan mencari uang,” jelas pendiri NII Crisis Centre ini.

Meski tak terang-terangan makar, Ken menilai, operasi NII saat ini tak kalah bahaya. “Mungkin bagi negara belum membahayakan, karena mereka tak melakukan aksi kekerasan. Senjata mereka hanya spidol, tapi lebih bahaya,” tambah dia. Diungkapkan dia, NII model baru ini menyebar kecemasan dan keresahan di masyarakat. Hubungan silaturahmi anak-orang tua terputus, uang diperas, menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. “Bahkan dengan merampok.”

Sebelumnya, Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto mengatakan, sejauh ini belum ada gerakan secara sistematis dari NII. Djoko menambahkan terkait gerakan NII ini, intelijen telah melakukan pembicaraan. “Tidak perlu dibesar-besarkan, selama itu tidak menganggu,” ujarnya. Sejauh ini pemerintah mengaku belum mengetahui pasti apakah NII benar-benar bertujuan ingin mendirikan negara Islam. “Gerakan seperti itu kan tidak pernah terproklamirkan mendirikan negara,” kata dia

Menurut dia, tidak semua hal harus diarahkan ke NII, termasuk serangkaian jaringan baru terorisme yang belakangan terjadi. Sementara, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, mengaku heran mengapa pemerintah melalui kekuatan intelijen tak mampu melihat gerakan masif NII. Luputnya gerakan ini dari pengamatan tentu patut dipertanyakan.

“Menurut saya tidak masuk akal, sampai bisa merekrut puluhan ribu orang tanpa tidak terdeteksi dari awal. Pemerintah harus memberi jawaban dalam langkah konkrit,” tuturnya. “NII itu tak berdiri sendiri. Berkembangnya gerakan sekterianisme, radikalisme, ini kok dibiarkan saja?”

No comments:

Artikel lainnya