Wednesday, April 27, 2011

Styrofoam Masa Kini Dibuat Lebih Ramah Lingkungan

img


Bila selama ini penggunaan styrofoam sering dihindari karena dianggap tak ramah lingkungan dan butuh 1000 tahun untuk terutai. Tapi dengan teknologi baru, styrofoam kini bisa terurai hanya dalam waktu 4 tahun.

Oxodegradable Polystyrene merupakan kemasan pangan ramah lingkungan pertama di Indonesia yang baru saja diperkenalkan.

Penggunaan polystyrene atau yang lebih dikenal dengan styrofoam, yang selama ini digunakan diperbarui dengan tambahan bahan oxium yang membuat polystyrene akan bersifat oxodegradable dan cepat terurai dalam waktu kurang lebih 4 tahun.

Selain mendapatkan sertifikat green label, oxodegradable polystyrene ini pun terbukti aman sebagai kemasan pangan yang memenuhi regulasi BPOM.

"Saat ini oxodegradable polystyrene box telah diaplikasikan sebagai kemasan makanan ramah lingkungan di salah satu restoran siap saji," jelas Sugianto Tandio, CEO PT Tirta Marta Indonesia, Selasa (26/4/2011).

Menurutnya, hal ini tentunya menunjukkan kesadaran masyarakat untuk peduli lingkungan semakin tinggi.

"Dengan berbagai inovasi yang kami miliki, oxium sebagai pelopor teknologi ramah lingkungan bangga bisa berperan aktif dan berkontribusi bagi kelestarian lingkungan hidup sekaligus menghijaukan bumi," lanjutnya.

Oxium merupakan aditif yang ditambahkan ke dalam polystyrene sehingga dapat mempercepat terjadinya proses degradasi, dimana diperlukan waktu kurang lebih 4 tahun untuk menguraikan polystyrene di alam.

Dengan penambahan oxium, polystyrene akan bersifat oxodegradable, yakni terdegradasi melalui mekanisme oksidasi yang dipicu dengan adanya UV, panas, cahaya, oksigen dan mechanical stress.

"Sebelumnya kita sudah aplikasikan pada kantong kresek atau shopping bag yang ada di mall, yang bisa terurai dalam waktu 2 tahun. Dan kini kita terapkan pada styrofoam atau polystyrene yang bisa terurai dalam waktu 4 tahun," jelas Sugianto.

Sugianto menjelaskan, proses degradasi menyebabkan penurunan kekuatan tarik sehingga polystyrene menjadi brittle (rapuh), cracking (retak), terfragmentasi menjadi bagian-bagian yang kecil hingga powder atau bubuk.

Pada fase yang paling akhir dari proses degradasi ini akan menghasilkan CO2, air dan biomass yang akan kembali ke alam.

"Polystyrene atau styrofoam sebenarnya organik. Ini terbuat dari minyak yang awalnya berasal dari material organik," jelas Sugianto.

Menurutnya, atom penyusun polystyrene juga sama dengan beras atau gula, yaitu hidrokarbon. Hanya saja mata rantainya panjang sehingga mikroba tidak bisa memakannya dan membutuhkan waktu panjang untuk terurai dan akhirnya bisa dimakan oleh mikroba.

"Dengan menggunakan oxium, maka kita bisa memperpendek rantai dan mempercepat proses penguraian, sehingga lebih cepat dapat dimakan oleh mikroba," lanjut Sugianto.

Peluncuran styrofoam atau polystyrene ini juga mendapatkan dukungan dari Asosiasi Persampahan Indonesia (Indonesia Solid Waste Association atau InSWA).

"Dengan adanya oxodegradable polystyrene ini diharapkan bukan saja dapat mengurangi masalah sampah plastik yang tidak terurai, tapi lebih dari itu menjadi langkah awal bagi produsen dan masyarakat untuk melestarikan lingkungan," tutur Ir Sri Bebassari, Msi, Ketua InSwa.

Selain mendapat dukungan Asosiasi Persampahan Indonesia, Asosiasi Polystyrene ASEAN.

"Kami mendukung 100 persen penggunaan oxium sehingga problem kita dengan sampah plastik bisa teratasi," jelas Bonnie C. Blando, Ketua Asosiasi Polystyrene ASEAN.

No comments:

Artikel lainnya